Ku pikir aku takut memulai. Sebab
ada rasa di masa lalu yang masih tertinggal. Rasa yang menyakitkan, yang sulit
untuk ku hapus dan lupakan.
Ku pikir aku belum siap
untuk memulai. Sebab aku harus terlebih dahulu melupakan rasa pahit yang pernah
aku rasakan.
Ternyata aku salah. Aku tidak
akan pernah memulai jika saja aku selalu takut dan tak siap. Yang jelas-jelas
sampai kapan pun kenangan tersebut tak akan pernah terhapus dan terlupakan. Yang
perlu aku lakukan hanyalah menerima kenangan itu. Berdamai dengan diriku dan
mencoba memaafkan semuanya. Memaafkan kebodohanku dan memafkan ia yang sudah
menyakitiku.
Jika yang ku lakukan hanya
berdiam diri, menunggu hati ini sembuh dari rasa sakit hati. Ku pikir sampai
kapan pun aku hanya akan tetap merasakan sakit hati. Apalagi saat aku mulai
merancau, tak terima ia sudah melukai hatiku, juga harga diriku.
Bisa jadi dilain waktu aku
tertawa, menertawakan kebodohanku karena berhasil di mainkan oleh seseorang
sepertinya.
Selalu seperti itu. Takut,
tak siap, tak terima, dan marah.
Ku pikir siapa yang tak
marah. Seseorang yang bahkan dahulu nya bukanlah siapa-siapa, menerobos
pertahanan hati, mengatakan akan menetap, menerbangkan sang empunya, lalu mencampakkan
dengan sesuka hatinya.
Oh, ayolah. Harga diriku
sangat terluka. Dia tak sehebat itu, tapi kenapa dia berhasil
memporak-porandakan hatiku.
Ku pikir dengan ku marah,
membencinya sepenuh hati, aku tak akan lagi merasakan sakit hati itu. Namun,
lagi-lagi aku salah. Jika aku katakan aku sudah memaafkannya, tak perlu ku
menggerutu lagi, membunuhnya dengan sadis dalam pikiranku. Ya, jika benar aku
sudah memaafkannya, maka aku tak perlu lagi marah terhadap apa yang sudah ia
lakukan padaku, termasuk ia yang sudah menghancurkan harga diriku.
Ah, aku tak pernah bisa
memulai kembali jika aku masih saja seperti ini.
Bagaimana pun, aku harus
mulai bergerak, tak hanya terdiam terbelenggu masa lalu yang menyakitkan. Mulai
menata hati, mulai memaafkaan dengan kesungguhan hati, mulai peduli dengan diri
sendiri, dan mulai berusaha untuk bahagia.
Tak perlu terburu-buru
mencari pengganti. Jika masih tak siap untuk sebuah hubungan, tak perlu di
paksakan. Aku sudah berusaha memulai, memulai memperbaiki diri, sebab itu yang
terpenting, dibanding dengan cepat-cepat memulai hubungan baru tanpa
memperbaiki diri dan hati terlebih dahulu, sama saja aku mengulangi kebodohan yang ku lakulan dahulu.
0 komentar:
Posting Komentar