Semua ini hanya perihal
waktu. Waktu yang tak pernah bisa berpihak padaku. Atau mungkin karena aku yang
sering meragu? mungkin juga karena takdir yang sudah tersusun dan aku mau tak
mau harus menerima semua itu.
Waktu selalu
berkonspirasi agar kalian bersatu, selalu dengan kejamnya membuatku
tak bisa berkutik dan hanya bisa diam melihat kebersamaanmu.
Perihal ragu. Aku bukan
ragu mencintaimu. Aku hanya ragu untuk mengungkapkan perasaanku, meskipun saat
itu aku tahu kau juga menyukaiku. Namun, selalu ada kehati-hatian yang membuatku
tertahan dan tak mengungkapkan. Tunggu, diwaktu yang tepat, kataku.
Nyatanya,
kehati-hatianku membuahkan rasa pahit nan menyakitkan. Setelah sekian banyak
perhatian yang kuberikan, bagaimana mungkin kau masih saja salah menafsirkan?
Tidak, bukan memberi harapan kosong maksudku, sungguh bukan itu. Apa kau tak
bisa melihat ketulusanku? Apa tak bisa kau sadari bola mataku ini selalu
tertuju padamu?
Ya, mungkin semua yang
kulakukan memang tak pernah cukup bagimu. Segala yang ku anggap bukti
ketulusanku mungkin hanyalah omong kosong bagimu. Hingga akhirnya waktu dengan
kejam mempertemukanmu dengan dia, dan begitu lengkap dengan konspirasi
kebetulannya sampai kau merasa keberadaanku patut digantikan olehnya.
Lengkap. Semua lengkap
saling bekerja sama untuk memisahkan kita. Waktu dan semesta patuh pada takdir
yang tak mengizinkan kita bersama.
0 komentar:
Posting Komentar